« Kembali ke Halaman Sebelumnya
Kisah
Perjalanan 2 Hari Ke Jogja

Foto Kota Jogja 2 hari Sebelum Gempa
Mengenang - Surabaya, 24 Mei 2006 malam yang lalu -
Larut malam sekitar pukul 23 di terminal Bungurasih Surabaya suasana
masih tampak hiruk pikuk penumpang menunggu bis antar kota yang
akan ditumpangi untuk pulang kampung, khususnya bis Patas Jogja
yang kosong karena diserbu penumpang (mumpung ada libur panjang).
Baru sekitar pukul 01.00 pagi kami berempat (rombongan tim penyebar
brosur Jogja) bisa naik bis patas Akas. Perjalanan malam yang mengasikkan
dan bisnya pun enak karena mesinnya mercy. Tak terasa sampailah
di Caruban di rumah makan "Pagi-Sore" pukul 03.00 kami beristirah
makan sambil berfoto-foto (lihat di foto album perjalanan Jogja
-red-).
Perjalanan selanjutnya terasa sunyi senyap karena penumpang pada
tidur, pak sopirpun mengencangkan laju kendaraannya. Sampailah di
kota Solo ... Kami pun sholat Subuh dengan tayamum. Setelah beberapa
lama kemudian. bis tiba di Klaten yang sangat Gelap, padahal jam
sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi hari, matahari terasa tertutup,
jarak pandang bis kira-kira hanya 100 meter. Laju bis diperlambat
sampai 50 km/jam, dijalanan tidak ada orang yang naik sepeda motor
(karena mungkin masih dingin).
Perjalanan Di klaten terasa menakutkan bahkan sampai-sampai kita
berencana untuk mengurungkan niat ke jogja dan balik ke Surabaya,
suasana begitu gelap tertutup kabut tebal yang kami kira akibat
dari merapi. Hati dag . .dig . . dug kalau2 merapi meletus dan kami
masih berada di sana. Antara kebimbangan dan keyakinan tak terasa
kita berdo'a agar dilindung oleh Allah. Dan sampailah di Jogja sekitar
pukul 08.30 dalam keadaan terang.
Di terminal Umbulharjo Jogja kami kebingungan mau kemana dan bagaimana
??? cari masjid gak ketemu ? cari nyebar brosur di terminal koq
rasanya gak pas .. akhirnya dalam kebingungan itu, kita putuskan
untuk istirahat di rumah saudara di komplek Wijilan (pusat Gudeg
jogja , Lihat foto -red -).
Kemudian setelah menyegarkan tubuh dg mandi di rumah saudara. Semangat
kita tumbuh kembali. Dengan berjalan kaki sekitar pukul 10.00 menyusuri
benteng alun-alun selatan sampai alun-alun utara. di tiap perempatan
kita berhenti untuk menyebarkan brosur dengan perasaan karena takut
dituduh menghasut.
Perjalanan menyusur benteng terasa sangat jauh, panas, dan melelahkan
dan sampai2 semua tim (kecuali fian tatak) muntah-muntah di perjalanan.
rasa2nya mata sudah berkunang-kunang, dan gak mungkin melanjutkan
perjalanan lagi. tapi setelah meminum sebotol minuman yang membasahi
tenggorokan, semangat kita tumbuh lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Foto Sebar Brosur di Jogja
Setelah itu kita bergeser ke malioboro, dan menyebarkan brosur
di sana (di perempatan depan kantor pos besar) hai kami tambah dag
dig dug karena diawasi oleh polisi. Akhirnya kami minta tolong anak-anak
di pinggir jalan untuk membantu menyebarkan brosur dengan Rp 10.000
per anak.
Dibawah terik yang panas sekitar pukul 11.00 tiba-tiba dari arah
yang tidak diduga-duga dan dalam waktu yang sekejap awan datang
menaungi maliboro tempat penyebaran brosur (lihat file Jogja. avi
-red-) akhirnya kami lega dan seperti ditiupkan angin segar laksana
AC. Setelah itu kita masuk ke pasar bringinharjo, namun diusir satpol
PP karena dianggap menggangu dan kami titipkan brosur ke masjid2
yang ada di bantu oleh mas Toni (penduduk asli Jogja).
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke UGM dengan naik bis kota ASPADA
no 4. walaupun tidak ber AC namun suasana tetap dingin. Di UGM kita
temui takmir masjid untuk menitipkan brosur. dan kami berencana
menemui mbah marijan di gunung merapi kaliurang untuk menyadarkan
beliau tentang arti tauhid. namun niat ini kami urungkan dengan
pertimbangan masyarakat biasa saja sudah berpandangan sedikit "aneh"
terhadap kita apalagi nanti mbah marijan.
Akhirnya kita putuskan untuk pulang dengan naik bis EKA ke Surabaya
dann pulang ke rumah masing-masing. Hari jum'at kita jum'atan di
surabaya serasa mengantuk.. karena kelelahan setelah menyebar brosur.
tidur terasa gelisah.
Malam hari terasa panas dan seprtinya banyak nyamuk, radio bersuara
kemresek2 (kata pak wo, anggota tim)
TIBA - TIBA Gempa yang tidak diinginkan (yang sudah diprediksi
oleh tim) terjadi. Semua anggota bergetar, merinding, dan tidak
tau harus bagaimana. dan semua merasa bersalah karena tidak berhasil
meyakinkan masyarakat Jogja akan terjadi gempa.
Pada awal korban masih berjumlah 100 kita masih tenang (karena
korban tidak terlalu banyak) ketika menginjak ribuan maka perasaan
berdosa sampai saat ini menghantui anggota tim.
Kami berharap cukuplah ini dijadikan pelajaran agar dengan kejadian
ini masyarakat tidak tinggi hati, sombong, takabur, jumawa, meremehkan,
merendahkan orang lain.
Surabaya, 14 Juli 2006.
Ditulis di Markas SPMB
« Kembali ke Halaman Sebelumnya
|