« Kembali ke Halaman Sebelumnya
Kisah Perjalanan Menuju Pusat Semburan Lumpur Lapindo Sehari Sebelum Amblas.

Foto Semburan Lumpur Lapindo
Makna dibalik kunjungan ke lumpur lapindo pada hari
Sabtu, 16 Agustus 2006.
Maha Suci Allah atas segala nikmat yang diberikan
kepada hamba-hambanya, nikmat keselamatan yang tiada duanya telah
diberikan Allah kepada kita semua yang melakukan perjalanan pada
siang hari itu menuju ke daerah pusat semburan lumpur lapindo. Perjalanan
yang jauh menyimpang dari rencana semula (pergi ke kota Trenggalek),
telah menuntun kita ke suatu tempat yang selama ini jadi ujian ketauhidan
bagi kita, yakni semburan lumpur lapindo.
Dimulai dari niatan kita (team MPT) untuk mengunjungi
Trenggalek karena mendapat informasi dari salah satu anggota team
bahwa daerah tersebut masih banyak masyarakat miskin yang butuh
bantuan. Ternyata terjadi banyak hal yang membuat kita menjadi bimbang
untuk melanjutkan rencana tersebut. Dua hari sebelum hari sabtu,
kita mencatat beberapa kejadian di lingkungan Sidoarjo yakni adanya
beberapa awan aneh yang berhasil didokumentasikan oleh salah anggota
team MPT dan disusul dengan dua kejadian tabrakan kereta api yang
dalam rentang waktu hampir berurutan. Hal yang semakin membuat kita
yakin untuk mengurungkan niat pergi ke Trenggalek adalah bocornya
ban mobil yang akan dipakai untuk berangkat (setelah pada malam
harinya dipakai untuk keliling memasang spanduk di Sidoarjo).
Akhirnya rencana diubah menuju ke Mojokerto mengunjungi
salah satu teman disana, namun ternyata rencana tersebut juga batal
karena terman yang akan dikunjungi masih berada di Surabaya untuk
mengurus laporan sepeda Motornya yang hilang. Karena tidak mau melewatkan
hari Sabtu itu dengan sia-sia, meskipun waktu sudah menjelang siang
hari itu, maka kita putuskan menuju ketempat yang terdekat dengan
Sidoarjo yakni tempat yang selama ini kita jadikan salah satu tempat
ujian ketauhidan kita.
Pusat Semburan Lumpur Lapindo, itulah tempat yang
akhirnya kita tuju... Berangkat dengan bersama keluarganya pak dwi
(istri dan dua putra/putri beliau serta seorang keponakannya yang
gendut) akhirnya kita bersembilan berangkat dengan menaiki tiga
buah motor. Ternyata perjalanan tidak selancar yang kita bayangkan,
siang hari yang panas itu semakin terasa berat karena jalan yang
menuju ke arah Porong macet total. Namun sekali lagi berkat pertolongan
Allah kita bisa mencapai tempat yang kita tuju melalui jalan alternatif
di perkampungan penduduk. Setelah melalui jalan yang berliku-liku
tibalah kita di Pusat Semburan Lumpur Lapindo.
"Maha Besar Allah Atas Segala apa yang diciptakannya",
Itulah ungkapan yang mungkin sangat pantas untuk diucapkan ketika
kita memasuki wilayah semburan lumpur lapindo.Pemandangan yang jauh
berbeda dibandingkan sewaktu kita datang terakhir kalinya. Desa
yang terakhir kalinya kita kunjungi masih tampak kesibukan warganya
kini yang tampak hanya hamparan lumpur kering yang luasnya berhektar-hektar
yang ditumbuhi beberapa pohon kering tak berdaun. Tanggul yang tadinya
cuma berukuran 1 meteran kini sudah mencapai 3 meteran.

Foto Sebuah Pabrik terendam Lumpur Panas
Semakin kita mendekat ke Pusat Semburan Lumpur, Pemandangan
yang tampak sudah sangat jauh berubah. Jalan Tol yang dua bulan
terakhir masih bisa dilalui kendaraan meskipun dalam satu arah,
kini sepi, yang tampak hanya truk-truk besar dan alat-alat berat
yang mengangkut pasir dan kerikil untuk memperkuat tanggul. Tanggul
yang dibuatpun bukan tanggul yng berukuran 1-3 meteran namun sudah
mencapai 10 meteran lebih, karena luas genangan lumpur mulai di
persempit. Dengan tanggul yang melingkar sangat tinggi berbentuk
cincin, dimana di tengah-tengahnya pusat lumpur mengeluarkan semburannya
yang diiringi dengan asap tebal yang keluar menuju kelangit sampai
mencapai ketinggian bermeter-meter. Maka hal yang tampak sangatlah
mirip seperti kawah gunung yang siap meletus, mengeluarkan segala
isi yang dikandungnya.
Belum selesai kita melihat hal yang sangat menakjubkan
(disamping juga sangat mengerikan dan mengkhawatirkan) dan belum
selesai juga pikiran kita untuk kembali mengagungkan namaNya atas
kejadian yang tampak didepan kita, Dari kejauhan datang sekumpulan
orang berjumlah kira-kira 10 orang dengan berbusana hitam-hitam.
Sangat yakin dan mantap mereka berjalan tanpa menghiraukan orang-orang
disekitarnya. Orang yang paling depan membawa tombak, sedangkan
orang disebelahnya membawa semacam keris atau pedang dan orang yang
yang ditengah membawa semacam barang sesaji yang ditaruh di wadah
beranyam.

Foto Klenik Lumpur Lapindo
Hal ini ternyata berkaitan dengan sayembara yang
dilakukan pemerintah Sidoarjo yang isinya barangsiapa yang bisa
menghentikan lumpur lapindo dengan cara apapun akan diberi imbalan.Akhirnya
banyak paranormal yang bergabung mengikuti sayembara tersebut.
Subhanallah, hal ini sangat mengusik hati kita. Disaat
kita menghimbau masyarakat untuk kembali mengingat kembali kepada
Allah SWT. kembali bertakwa kepadaNya dan memohon perlindungan serta
semakin mendekatkan diri kepada yang maha Kuasa, justru yang tampil,
yang didukung oleh pihak penguasa, yang dipublikasikan oleh media
masa, dan bahkan yang diharapkan oleh masyarakat luas agar bisa
menghentikan bencana ini adalah paranormal-paranormal dengan berbagai
macam mantera, benda pusaka, dan sesaji-sesajinya.
Sungguh berat apa yang kita hadapi ini, mohon untuk
semua anggota milis the untold_stories ini untuk merenungkan kembali
apa yang terjadi sekarang ini. Bagaimana Allah akan memberikan keselamatan
kepada kita? bagaimana Allah akan memberikan pertolonganNya kepada
kita dalam mengatasi bencana ini? Bagaimana rahmat dan hidayahNya
akan menghampiri kita? jika ternyata kita tidak pernah memohon kepadaNya,
tidak pernah mengagungkan NamaNya, tidak pernah tunduk kepadaNya
dan mematuhi aturanNya. Justru yang terjadi kita lebih percaya kepada
yang namanya benda pusaka, mantera, sesaji, yang jelas-jelas menyalahi
aturanNya dan dengan sengaja mengakui kekuatan selain kekuatan Allah
SWT.
Itulah mengapa saya menyebutnya tempat pusat semburan
lumpur lapindo itu sebagai tempat ujian ketauhidan kita. Apakah
dengan bencana ini kita masih mengakui Allah sebagai yang maha penolong
bagi kita? ataukah justru kita mulai mengakui kekuatan selain Allah
yang mampu menolong kita?
Kalau kita renungkan kembali dengan kegagalan rencana
team untuk pergi ke Trenggalek maka secara tidak langsung Allah
ingin menunjukkan suatu pemandangan yang menunjukkan kebesarannya
atas apa yang terjadi di Semburan Lumpur lapindo. Selain itu Allah
juga ingin memberikan contoh secara langsung tentang batasan ketauhidan.
Batasan antara pengakuan terhadap Allah sebagai penguasa alam ini
dan pengakuan terhadap kekuatan selainNya. Sehingga jika kita mau
menelaah dengan fikiran sehat maka semakin yakinlah bahwa dengan
memohon kepada Nya dan bertakwa kepada Nya insya Allah bencana ini
(semburan lumpur lapindo ini ) akan berhenti.
Makna yang lain adalah pada hari esoknya (hari minggu)
tanggul raksasa yang berbentuk cincin seperti mirip kawah itu ternyata
jebol. Coba seandainya pada saat hari sabtu kita jadi ke Trenggalek
dan pada hari minggunya kita melanjutkan perjalanan ke lumpur lapindo,
maka bisa dipastikan kita akan lari tunggang langgang karena terkena
jebolan lumpur tersebut. Padahal pada saat itu kita juga bersama
membawa anak-anak kecil (2 putra/putrinya pak dwi dan seorang keponakan
pak dwi yang pada hari sabtu kemarin sempat jatuh karena lari pada
saat tiga truk besar datang) . Maha besar Allah yang telah mengabulkan
do'a kami yakni keselamatan. Semoga do'a yang lainnya (berhentinya
semburan lumpur lapindo) segera dikabulkan oleh Nya. Aminn..
« Kembali ke Halaman Sebelumnya
|