Di balik Gempa Bengkulu
Pada tulisan-tulisan sebemnya telah dijelaskan berbagai hal mengenai musibah dan bencana khususnya Bengkulu (baca
Gempa Bengkulu : Kebenaran yang Terabaikan),
maka kali ini, ijinkan kami tuliskan sepenggal kisah di balik gempa bengkulu dan situbondo. Kisah ini tentunya sangat subyektif dan hanya sebagai penguat visi saja, sehingga pembaca boleh percaya boleh juga tidak.
Hal terpenting cerita di balik bengkulu ini adalah banyaknya bencana di Tanah Air adalah sebuah Teguran/Peringatan Bagi Kita Khususnya Kaum Muslimin. Contoh yang tidak baik di tiru adalah Kaum Terdahulu dimana diperingatkan, justru tidak sadar bahwa itu adalah peringatan, kita ingat Kaum N. sholeh dengan untanya yang tidak masuk akal dan kisah-kisah lain. Kisah yang sampai saat ini mashur adalah kisah Bani Israil dimana mereka adalah orang yang mengaku dekat dengan Tuhan dan sebagai umat pilihan, namun karena 'kebutaan' nya mereka banyak yang ingkar.
Bani Israel sampai saat ini hidup dengan 'aman', 'tentram' tidak terkena bencana apapun, sehingga mereka merasa bahwa kehidupan mereka adalah benar, tidak kurang satu apapun dan tetap di 'jalanNya'
Kisah Lain yang cukup mashur pula adalah Iblis yang 'berpengetahuan', sekiranya Iblis tidak tahu bahwa dia dicipta dari api dan adam dari tanah, maka kesombongan dia akan ada dan dia menjadi selamat. Justru karena pengetahuan itulah yang menyebabkan EGO dirinya tampak ketika datang mahluk lain, Iblis dengan segala hal mencari kelemahan adam dan ditemukanlah kelemahan itu yakni Adam tercipta dari tanah sedang dia dari api. Menurut ilmu yang wajar, maka orang yang senior (iblis lebih dulu ada) harus di hormati oleh yang datang belakangan. Dan bahkan sampai pengetahuan penciptaan, seharusnya wajar jika adam yang menghormat IBlis
Namun kisah Iblis itu semua membuktikan bahwa ilmu, senioritas tidak berarti apapun di sisi Tuhan, justru ujian keiklasan agar tidak bersombong diri, keakuan harus hilang di sisi Tuhan. Hanyalah mahluk yang bersih yang boleh dekat kepada Allah, semua atribut harus hilang dengan taraf penyucian diri
Permulaan Kisah Gempa Bengkulu
Kisah ini dimulai, lamanya menanti kejadian yang pararel dengan visi itu (
Visi yang jelas : sebuah asa dari pencarian tuhan
), tulisan terakhir adalah Kesurupan & Fenomena 22 posting Sep 7, 2007 9:15 am, dimana dekat rumah kami terdapat kesurupan (baca Jumat, 07 Sept 2007 Siswa SMP Negeri 2 Buduran Kesurupan)
Tidak ada yang istimewa dari kejadian itu, namun yang jelas kesurupan itu sangat dekat dengan rumah kami dan ketika malam hari berturutan hampir selalu malam hari 'bau' menyengat seperti bau air kencing, selalu tercium di kamar (Kamar kami memiliki ventilasi udara diatas, sehingga dengan fan, udara dari luar di sedot kedalam). Mulai hari senin sampai berturutan selalu bau tidak biasa menyengat dan akhrinya ketika membaca berita kesurupan, sedikit teranglah mengenai bau itu.
Hari berganti hari sampai-lah hari minggu 9/9/2007 dimana sebenarnya kami hampir 'menyerah' tentang kelanjutan dari waspada yang kembar, karena tidak ada sedikit-pun tanda-tanda itu benar setelah tiga bulan (1-1-2007, 2-2-2007 dan 3-3-2007) memang benar terjadi
Beban terhadap visi itu sangat berat sehingga menimbulkan 'tekanan' psikologi yang pada akhirnya gampang tersinggung. Kami-pun mengeluh kepada pak Wahyu yang tidak lain adalah teman dosen satu ruangan. Masalah dengan pihak ALTEL dengan PM (bos) yang baru bung joni yang mencari-cari kesalahan SIMTUL karena dipengaruhi oleh tree masketer (nanang palsu, ratih dan tommy)
Akhrinya tekanan itu terbawa ke rumah orang tua di ketintang surabaya dimana akhirnya terjadilah debat yang hebat pada hari minggu 9/9/2007 sekitar pkl 15.30 lalu. Sayup-sayup dalam debat hebat itu terdengar bunyi kloneng suara pemadam kebakaran (rumah orang tua kami dekat Jawa Pos dan jalan raya)
Akhirnya setelah sore berlalu, kami cek apa yang kebakaran itu, ternyata Pasar Turi Kembali Terbakar
Malam hari kami pulang ke sidoarjo dengan sedikit mengeluh ..... mengapa kami gampang tersinggung ..... Ya Allah beban yang berat atas visi itu membuat kami jadi seperti ini, menjadi diri yang tidak stabil. Segala hal intropeksi kami lakukan dan akhirnya pada titik kesimpulan yakni 'Tinggal-kan visi itu, kalaupun terhadap kejadian yang akan datang .... biarlah ada orang lain yang memberikan warningnya atau sebagai pencatat berita bahwa ada suatu kisah (kaum) dengan mayoritas muslim dan diberi peringatan, namun mereka dengan segala macam dalih selalu beralibi bahwa alam-lah yang berulah dsb dsb.
Kesimpulan itu (untuk meninggalkan visi) dengan berat hati, sehingga sangat bertentangan dengan Nurani. "Lebih baik dan lebih enak menjadi mereka-mereka saja yang tanpa visi ... toh mereka juga orang baik-baik saja" ... guman kami dalam hati.
Pertentangan itulah yang menjadikan satu titik ujian yakni dengan menuliskan kembali Telah dekat saatnya ...
posting Sep 10, 2007 6:38 am, jika harus meninggalkan visi itu, maka apa yang di tulis TIDAK-lah benar, sebab sebelumnya ketika saudah pada satu kesimpulan maka ada peristiwa
Gempa Kedalaman 10 Km Panikkan Warga Situbondo.
"Sulit untuk dapat mengerti karena gempa itu tidaklah menarik perhatian secara nasional, seharusnya kalaulah memang terjadi sebagai penguat visi itu agar tidak di tinggalkan, seharusnya gaunnya nasional
" begitulah kira-kira waktu itu kami membaca berita tentang gempa itu.
Hari bergulir memasuki tgl 11-9-2007 dimana pada artikel Telah dekat saatnya ...
seharusnya terjadilah sesuai tulisan itu yakni : Pola-pola yang sama berulang dimana dekat dengan 11-9-2007 atau 22-9-2007 ....
Tanggal 11-9-2007 adalah hari seminar ICTS (seminar Internasioanl tantang Informatika), kami hadir sebagai salah satu panitia dan tertulislah bahwa jepang telah datang yang tertulis di artikel itu (
Telah dekat saatnya ...).
Sewajarnya pada tanggal itulah kejadian skala nasional terjadi untuk menarik perhatian para tokoh, para ilmuwan dsb .. dsb. Pada acara itu di awali prof Asano (kalau tidak salah) berbicara dalam bahasa inggris, kemudian prof benyamin dari UI juga dalam bahasa inggris. Kami berbicara dengan pak Darlis rekan satu dosen "Pak Darlis .... mereka meneliti itu apakah manfaatnya sudah terasa di masyarakat ?" begitu kira-kira kami bertanya pada pak Darlis
Menurut pandangan kami, seminar ICTS tidak ubah layaknya orang yang mencari 'kum' atau angka kredit untuk naik pangkat, seperti yang pernah saya ikuti pada waktu seminar lain, maka salah satu yang saat ini menjadi profoser staf ahli menkominfo, seminarnya hanyalah diwakili oleh mahasiswanya sedangkan beliaunya justru tidak hadir (call for paper mungkin)
Terjadilah debat sedikit antara pak Darlis dengan kami, masalah 'menara gading' ilmu pengetahuan. yang pada akhirnya kami tinggalkan seminar itu dan kembali ke kantor . Di ruangan , kami sendirian, dan akhirnya menulis secara lengkap kisah Visi yang jelas : sebuah asa dari pencarian tuhan
posting Sep 11, 2007 10:51 am, hampir 6 jam kami menulis artikel itu sebagai 'PERPISAHAN'
Benarlah mereka, tidak perlu lagi ada visi, toh masyarakat sudah baik dsb ...dsb, tak terasa sebenarnya saat menjelajah penulisan artikel diatas, timbul semangat-semangat kecil bahwa sebenarnya benar-lah langkah kami. Pada waktu menulis ... di sebelah ruangan terdengar canda tawa .... duh enaknya mereka tanpa beban mereka bercanda dsb ... dsb dan sebagai kekuatiran meninggalkan visi itu, maka kami tuliskan (coba bagi para pembaca, lihatlah tulisan dibawah ... penuh dengan pertanyaan dengan seminar ICTS)
Meninggalkan visi
Visi
yang jelas dan sudah banyak terbukti, haruskah ditinggalkan karena
kacanggihan ilmu dan teknologi ? Semua tidak ada sangkut pautnya dengan
tuhan, semua bersangkut karena alam yang berulah ..... benarkah ?
Alkisah kekuatiran atas meninggalkan visi itu berarti jatuhlah
perkataan ........
Dan jika
Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu tetapi mereka melakukan
kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan , kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya (al-israa':16)
Tibalah besok harinya tgl 12-9-2007 ... dimana benar-benar di ujung keputus-asaan, hari rabu kami harus berangkat pagi 06.30 dari sidoarjo dan tiba sekitar 07.30 untuk mengajar pemrogaram terstruktur mahasiswa S1 informatika ITS, lewat web materi on-line kami ajar mahasiswa semester satu (baca http://dwi.its-sby.edu/Akademika.html), hampir dua jam mengajar, maka masuklah pak Dr Agus ZA S.Kom Mkom untuk meminta ruangan TC-103 dipakai kuliah profesor dari Jepang ... hingga akhirnya kami akhiri kuliah lebih awal
Kemudian kami kembali keruangan untuk membaca-baca lagi berita, tidak ada berita yang nasional terguncang .... ya mungkin Allah menghormati bulan ramadhan (hari itu sehari sebelum ramadhan) sehingga ujung keputusasaan itu tidaklah penting. Sampai habis dhuhur dan setelah sholat dhuhur akhirnya kami 'tiduran' di ruangan dengan meng'iba' kepada Allah ... ya Allah sudah aku tuliskan semuanya .... tinggallah keputusanMu terhadap mereka
Sayup-sayup pula terdengar tawa canda mbak fatin dkk di ruangan sebelah (rungan kajur). Hal ini semakin membuat 'tekanan' bahwa benarlah kami harus meninggalkan visi itu. Menimang, mengiba dan mendoa .... manakah yang benar, jika visi itu terus maka seharusnya ada berita yang mengguncang, jika tidak .... maka benarlah harus di tinggal visi itu
Sampai akhirnta tertidur cukup lama, hingga terbangun pkl 16.30 dan sholat asar, setelah itu tertidur kembali dengan kelelahan kelelahan hati sampai pkl 17.40 dan pulanglah kami ke sidoarjo setelah terlebih dahulu sholat magrib di kantor. Dalam perjalan pulang naik sepeda motor, kami selalu berharap antara meneruskan visi dan tidak
Setelah sampai di rumah dan persiapan untuk sholat tarawih, maka berita ANTV terjadila bencana itu (Gempa 7,9 SR Mengguncang Bengkulu) Hati ini makdug .... dan tidak terasa melelehkan air mata bahwa ternyata Allah telah 'menjawab' visi itu, walaupun kami terlambat mendengar berita itu, namun hati kami menjadi tak tentu .... dengan kekuatan dan kekuasaan Allah. Mirip dengan kasus gempa yogya Kisah perjalanan ke jogja 2 hari sebelum gempa , bahwa visi itu jelas :
Kami berharap cukuplah ini dijadikan pelajaran agar dengan kejadian ini
masyarakat tidak tinggi hati, sombong, takabur, jumawa, meremehkan,
merendahkan orang lain.
Apakah kisah itu benar ....? ya kisah itu benar selayaknya benarnya Gempa Indramayu sebuah keniscayaan
Aug 10, 2007 1:08 pm, maka Visi itu harus diteruskan ..... kalaupun masyarakat tidak percaya, maka suatu saat nanti Visi itu insyaAllah akan terbukti. Kami sadar bahwa musibah, bencana alam adalah alam yang ber-ulah, namun bagai alunan musik, musik itu dikatakan 'rancak' manakaa ada piano, ada gitar, drum dan ada penyanyi
Alam yang berulah, manusia yang terkena, maka selayaknya mengambil hikmah, bahwa Kita ini sedang di Peringatkan, sehingga tidak semata-mata faktor alam saja. Mengapa harus sekarang ? Adalah kesempatan emas ketika ujian itu dilalui dengan baik, namun ketika tidak ......
Apakah semua kebetulan ? tulisan Telah dekat saatnya ...
..... tulisan tgl 11 atau 22 dan tulisan-tulisan lainnya .... hanya Allah yang Maha Tahu.
Kisah n. Ismail dan ibunya menunjukkan bahwa air (zam-zam) muncul pada last time di ujung pencarian, Kisah n. Ayyub pula ketika telah ditinggal-kan ....
: "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum". (Shaad:42)
Surabaya, 20-September-2007
|